asip-sayurradi@yahoo.co.id

Selasa, 20 Maret 2012

MASALAH UNTUK PTK

TEKNIK EKSPLORASI MASALAH PTK

(Pendekatan Praktis)

Banyak pendidik yang kesulitan menentukan tema, masalah dan judul Peneiltian Tindakan Kelas. Berikut ini dipaparkan teknik eksplorasi masalah PTK dari pendekatan praktis. Semoga membantu.

Masalah dalam PTK


Bu Siti sudah mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah MTs selama 11 tahun. Beliau termasuk guru yang disukai karena menurut para siswa Bu Siti mengajarnya menyenangkan. Banyak siswa yang sering berkonsultasi maupun curhat kepada Bu Siti.  Ia juga guru yang rajin karena sangat jarang bolos mengajar, dan tidak pernah meninggaklan kelas kalau tidak ada halangan penting. Hanya saja akhir-akhir ini Bu Siti merasa galau. Hasil evaluasi sumatif smester yang lalu di kelas yang ia ajar menunjukkan rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia. Demikian juga pengalaman Ujian Nasional tahun lalu, banyak sekali siswa yang mengulang ujian pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Nilai hasil UN mata pelajaran Bahasa Asing malah lebih baik dari pada nilai Bahasa Indonesia. Itu phenomena yang kontradiktif karena seharusnya nilai mata pelajaran Bahasa Indoneisa Lebih baik.
Karena Bu Siti memiliki keingintahuan yang tinggi beliau terus-menerus mencari jawaban, namun tidak dapat menjawabnya dengan hanya mengira-ngira. Oleh karena itu Bu Siti mencari data, dalam hal apa kelemahan para peserta didik. Ia kemudian menganalisis lembar jawaban hasil evaluasi sumatif kelas tersebut dan melakukan pencacahan pada nomor soal yang mana saja siswa tidak dapat menjawab. Setelah diolah maka teridentifikasi bahwa kebanyak siswa salah menjawab soal-soal yang berkaitan dengan teks. Bu siti berkesimpulan bahwa kelemahan para peserta didik terletak pada penguasaan kompetensi menemukan informasi rinci dari teks.
Bu Siti merenung mengapa ini terjadi, lalu mengunjungi kelas untuk berdialog dengan beberapa peserta didik di kelas tersebut, terutama yang berdasarkan data yang dimiliki masuk kategori kurang  dalam penguasaan kompetensi tersebut. Berdasarkan dialog banyak hal yang ditemukan, namun yang sangat terkait dengan masalah tersebut ternyata para peserta didik minim pengetahuannya mengenai struktur dan sistimatika teks. Pada umumnya teks terdiri dari informasi terkait dengan 5 pertanyaan, yaitu apa, siapa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana. Para peserta didik banyak yang tidak memahami hal itu dan menurut pengalaman Bu Siti memang para peserta didik tidak dilatih untuk menemukan informasi rinci berdasarkan karakter dan struktur teks.
Untuk menyelesaikannya Bu Siti mengajak beberapa teman untuk berdiskusi dan disepakati untuk melakukan Penelitian TIndakan Kelas. Dalam benak Bu Siti sebenarnya sudah terpikir sebelumnya untuk melakukan PTK dan ketika teman-teman mengusulkannya maka Bu Siti bertekad untuk melakukannya.
Bu Siti kemudian mengajak teman sejawat untuk mengadakan pertemuan lanjutan. Dalam pertemuan tersebut disepakati 4 orang kolaborator lalu sepakat untuk melakukan menyusun proposal dengan masalah: Rendahnya kemampuan peserta didik dalam menemukan informasi rinci dari teks.
Dalam kasus di atas tergambar sebuah proses awal dari munculnya rencana melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Yang pertama harus muncul ketika akan melakuka  PTK adalah kejelasan masalah. Sebelum masalah dapat ditangkap dengan jelas maka penelitian tidak dapat dimulai. Oleh karena itu masalah merupakan komponen penelitian yang paling penting.
Dalam referensi  masalah sering didefinisikan sebagai sebuah kesenjangan diantara harapan atau keharusan dengan kenyataan. Sugiyono[1] mengartikan masalah sebagai penympangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antar teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, dan antara rencana dengan pelaksanaan. Kalaun seorang pendidik menemukan penyimpangan-penyimpangan pada area tersebut maka maka dipastika terdapat masalah.
Pada kasus Bu Siti  Rendahnya kemampuan peserta didik dalam menemukan informasi rinci dari teks merupakan sebuah masalah. Bu Siti beranggapan bahwa setelah peserta didik belajar membaca demikian lama dan berlatih menemukan informasi dari teks sesuai dengan target dalam kompetensi dasar maka seharusnya pesereta didik menguasai kemampuan menemukan informasi rinci dari teks secar memadai tetapi kenyataannya tidak. Dalam kasus ini terjadi kesenjangan antara apa yang seharsnya terjadi dengan kenyataan dan diangkat sebagai masalah untuk PTK.
Setiap penelitian harus berangkat dari masalah. Oleh karena itu dalam penelitian masalah adalah komponen yang paling utama dan pertama harus dirumuskan. Profesor Sugiyono berpendapat bila dalam penelitian telah dirumuskan masalah dengan jelas dan menggambarkan masalah yang sebenarnya maka peneliti telah menyelesaikan 50% pekerjaan penelitian[2]. Ini masuk akal karena ketika sebuah penelitian akan dilaksanakan namun belum dirumuskan masalahnya dengan jelas maka penelitian tersebut akan kehilangan arah. Semua komponen penelitian mulai dari kajian pustaka, metode penelitian, instrument penelitian, prosedur penelitian, dan teknik pengolahan data berlandaskan kepada rumusan masalah penelitian. Jadi langkah pertama melakukan penelitian adalah mengkaji masalah dan merumuskannya dengan baik.
Dalam penelitian dikenal dengan variabel penelitian. Yang dimaksud dengan variabel adalah besaran yang nilainya berubah-ubah. Dalam sebuah masalah penelitian terdaat variabel. Misalnya pada maslah yang diangkat oleh Bu Siti, variabel yang akan diukur adalah kemampuan menangkap informasi rinci dari teks. Beberapa referensi seperti buku yang ditulis Profesor Rochiyati Wiraatmaja[3], dalam PTK tidak menggunakan istilah variabel melainkan menggunakan istilah fokus masalah.

Sumber Masalah PTK

Menentukan masalah untuk PTK sebenranya tidak sulit karena masalah yang harus diangkat terkait dengan hal-hal praktik sederhana yang akrab dialami setiap hari dalam pembelajaran. Seyogyanya apabila seorang pendidik paham dan peduli terhadap pembelajaran maka tidak akan sulit menemukan masalah untuk PTK. Selain itu sebenarnya masalah PTK berpangkal hanya pada dua hal saja yaitu proses pembelajaran dan hasil belajar. Jadi ketika mencari masalah untuk diangkat dalam PTK maka dua pertanyaan besar yang harus diajukan yaitu pertma: Apakah proses pembelajaran sudah baik?; dan kedua : Apakah hasil belajar sudah baik? Apabila jawabannya tidak atau belum maka disana terdapat masalah.
Namun demikian dua pangkal masalah tersebut  terlalu besar untuk dijadakan sumber masalah PTK. Oleh karena itu kedua pangkal masalah tersebut harus diurai kedalam sumber-sumber masalah yang spesifik. Salah satu pendekatan untuk mengurai pangkal masalah tersebut adalah dengan melakukan empat kegiatan yaitu mengevaluasi, mengamati, merasakan dan meninjau atau mengkaji proses dan hasil belajar. Pendekatan ini dapat digambarkan dalam peta konsep berikut.
Peta konsep di atas menggambarkan bahwa sumber masalah untuk PTK ternyata sangat banyak. Pertama masalah dapat diperoleh dengan cara melakukan evaluasi. Mengevaluasi berarti membandingkan hasil belajar dengan tujuan pembelajaran. Secara garis besar mengevaluasi hasil belajar dapat dilakuakn dalam bentuk formtif, sumatif dan ujian akhir satuan pendidikan dalam bentuk UN dan UAS/M BAN. Melalui evaluasi formtif dapat diperoleh data apakah KKM KD tercapai,  melalui evaluasi sumatif dapat diperoleh informasi apakah KKM SK tercapai, dan melalui UN dan UAS/M BAN akan diperoleh informasi apakah SKL tercapai. Apabila ketiga kirteria ketuntasan tersebut belum tercapai maka disana ada masalah.
Kedua masalah PTK dapat diketahui melalui pengamatan terhadap proses. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai karakter dan perilaku siswa seperti motivasi, minat, kedisiplinan, gaya belajar, tingkat ketertarikan terhadap mata pelajaran, kesulitan belajar dan sejenisnya.  Untuk mendeteksi masalah para pendidik juga harus melakukan observasi untuk mengetahui apakah para peserta didik senang dengan penampilan pribadi pendidik. Ada kalanya seorang pendidik harus mengundang  kawan untuk mengamati proses pembelajaran dan meminta pendapat tentang kelebihan dan kekurangannya. Dengan cara itu pendidik akan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang sebenarnya terjadi. Apabila hasil pengamatan diperoleh informasi bahwa kurang
bergairanh belajar, mengalami kesulitan belajar, malas, kurang disiplin dan sejenisnya maka dapat dinyatakan bahwa terdapat masalah dalam pembelajaran.
Ketiga masalah PTK dapat diperoleh melalui kegiatan merasakan. Dalam pembelajaran sumber masalah tidak hanya muncul dari hasil pengamatan terhadap siswa dan lingkungan pembelajaran melainkan juga dapat timbul dari aspek psikologis pendidik,  misalnya rasa senang, rasa aman dan rasa nyaman yang dialami pendidik. Aspek ini tentu tidak dapt diabaikan karena  merupakan salah satu factor penentu keberhasilan pembelajaran. Untuk mengetahuinya adalah dengan cara merasakannya. Ketika melakukan pembelajaran maka rasakan apakah pendidik merasa bergairah, dapat menikmati, aman dan nyaman? Kalau tidak, pasti ada masalah.
Keempat, mendeteksi masalah untuk PTK dapat dilakukan dengan cara maninjau proses dan hasil pembelajaran dari berbagai segi misalnya dari segi teori, dari segi kriteria, dari segi standar. Meninjau pembelajaran dari segi teori bisa dilakukan dengan cara membaca referensi atau diskusi lalu bandingkan dengan praktek pembelajaran sehari apakah sudah sesuai dengan teori.  Misalnya dalam pembelajaran Fisika, berdasarkan teori model pembelajaran utama yang harus digunakan adalah model pembelajaran inquiri kemudian bandingkan dengan pembelajaran sehari-hari apakah sudag menerapkan model inquiri sebagai model utama?
Pembelajaran dapat juga ditinjau dari segi SKL yang terdiri dari SKL satuan pendidikan, SKL kelompok mata pelajaran dan SKL mata pelajaran. SKL selain dari gambaran mengenai kompetensi yang harus dikuasai pesera didik juga menggambarkan aspek yang harus dikuasai. Dalam SKL Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI misalnya ada pernyatan bahwa peserta didik harus menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik. Pertanyaan yang harus diajukan: Apakah pembelajaran sudah mencakup aspek tersebut? Kalau belum maka pembelajaran bermasalah dan harus diperbaiki. Contohlain, misalnya dalam SKL mata pelajaran bahasa,terdapat empat aspek yang harus dikuasai yaitu mendengar,  berbicar, a membaca, dan menulis. Setelah mengkaji maksud dari aspek yang ada dalam SKL, lalu bandingkan apakah pembelajaran sudah mencakup keempat aspek tersebut secara proporsional.
Pembelajaran juga dapat ditinjau dari segi tujuan mata pelajaran. Dalam lampiran Standar Isi setiap mata pelajaran terdapat tujuan mata pelajaran yang berisi aspek-aspek yang harus menjadi target dari pembelajaran. Contohnya dalam Standar Isi mata pelajaran Geografi SMA tercantum tujuan mata pelajaran seperti berikut:
Mata pelajaran Geografi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
  1. Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan
  2. Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi
  3. Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.
Pertanyaannya: Apakah pembelajaran geograf yang diselelnggarakan oleh seorang guru sudah mencakup aspek-aspek tersebut? Kalau belum berarti masih ada yang kurang dalam pembelajaran dan kekurangan tersebut dapat menjadi sumber masalah untuk PTK.
Dengan demikian sumber masalah untuk PTK sangat banyak. Yang harus dilakukan oleh para pendidik untuk mengeksplorasi masalah PTK adalah dengan cara tersu menerus mengevaluasi, mengamati, merasakan dan mengkaji atau meninjau pembelajaran.

Kriteria Masalah PTK

Sebelumnya telah dipaparkan berbagai sumber masalah untuk PTK. Ternyata sumber masalah sangatg banyak. Sumber-sumber masalah tersebut dapat melahirkan masalah yang banyak dan juga beragam. Lalu apakah setiap masalah pembelajaran dapat diangkat untuk masalah PTK? Tentu saja tidak karena masalah yang tepat untuk PTK harus memenuhi beberapa kriteria.
Setidaknya ada lima kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah masalah dapat diangkat untuk masalah PTK. Kelima kriteria dimaksud adalah sebagai  berikut:
1.       Masalah berasal dari kelas,
2.       Tidak terlalu luas dan terlalu sempit
3.       Dilandasi dengan data otentik
4.       Ditemukan penyebabnya
5.       Ada kemungkinan untuk diselesaikan melalui tindakan di kelas.
6.       Penting (urgen) untuk segera diselesaikan.
Pertama masalah harus berasal dari kelas. Pendidik sering berasumsi bahwa rendahnya hasil belajar banyak disebabkan oleh faktor siswa seperti latar belakang orang tuan, tingkat ekonomi, jarak dari rumah ke sekolah/madrasah dan sejenisnya. Masalah itu nyata di wilayah geografis dan demografis Indonesia dan juga berlandaskan kepada data otentik. Hanya saja masalah seperti ini tidak dapat diangkat menjadi masalah PTK. Alasannya karena masalah tersebut  tidak terkait langsung dengan pembelajaran di kelas dan diluar wilayah pendidik untuk menyelesaikannya. Misalnya kalau berasumsi rendahnya hasil belajar disebabkan oleh latar belakang pendidikan orang tua, apakah pendidik akan melakukan tindakan dengan cara menyekolahkan orang tua untuk meningkatkan hasil belajar anak mereka? Tentu itu diluar jangkauan pendidik. Jadi masalah untuk PTK jangan terlalu umum, melainkan harus spesifik terkait dengan masalah pembelajaran.
Kedua, masalah tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.  Pada kasus Bu Siti sebenarnya masalah utamanya adalah rendahnya hasil evaluasi sumatif mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi masalah tersebut terlalu luas karena akan berhadapan dengan factor yang sangat banyak. Kalau masalah sebesar itu diangkat kedalam PTK maka akan kesulitan mencari tindakan yang tepat. Kalaupun dipaksakan memilih tindakan tertentu maka tindakan yang dipilih akan tidak tepat. Oleh karena itu Bu Siti mencari tahu faktor utamanya dengan cara menganalisis soal apa yang kebanyakan tidak dapt dijawab oleh para peserta didik dan memperoleh fakta bahwa kebanyakn siswa memiliki kelemahan dalam menangkap informasi rinci dari teks. Masalah yang ditemukan sangat spesifik dan untuk menyelesaikannya dapat ditentukan tindakan yang tepat.
Sering juga ditemukan masalah yang terlalu sempit. Misalnya guru mata pelajaran Agama menemukan kesulitan pada siswa kelas tertentu dalam praktek gerakan shalat wajib. Masalah tersebut bagus dan penting, namun karena PTK harus dilakukan minimal dua siklus dan setiap siklus minimal 2 pertemuan maka materi praktek gerakan shalat wajib terlalu panjang apabila diselenggarakan 4 pertemuan. Ketika masalah itu akan diangkat dalam PTK maka harus digabung dengan materi sejenis dari kompetensi dasar lain yang ada dalam smester yang sama. Misalnya digabung dengan praktek shalat sunnah yang berada di Kompetensi Dasar lain. Apabila demikian maka masalah yang diangkat bukan kesulitan siswa memperagakan gerakan shalat wajib, melainkan kesulitan siswa memperagakan gerakan shalat. Konsekuensinya apabila antara KD shalat wajib dengan KD shalat sunnah tidak berurutan maka pertemuan dan siklus PTK yang akan dilaksanakan tidak akan sambung menyambung melainkan akan loncat-loncat.  Hal itu tidak menjadi masalah dalam pelaksanaan PTK. Atau KD shalat sunnah ditarik agar berdampingan dengan KD shalat wajib. Dalam aturan pembelajaran teknik tersebut juda diperbolehkan.
Ketiga, masalah harus dilandasi dengan data otentik. Masalah yang akan diteliti harus benar-benar terjadi dalam kelas yang akan menjadi lokus PTK dan harus didukung oleh data otentik. Yang dimaksud dengan data otentik adalah fakta berbentuk angka, foto atau penjelasan mengenai masalah yang diangkat. Pada kasus Bu Siti, beliau melakukan analisis terhadap skor hasil evaluasi sumatif, mengolahnya dan mendapatkan kecenderungan-kecenderungan berbentukmangka-angka seprti rata-rata, persentase, standar deviasi dan sebagainya. Data-data itulah yang dimaksud dengan data otentik.
Data otentik tersbut berfungsi untuk meyakinkan bahwa masalah yang diangkat memang terjadi dalam pembelajaran. Jangan sampai peneltian dilakukan untuk menjawab masalah yang salah. Diumpamakan seorang dokter mau member tindakan penyembuhan kepada seorang pasien maka dokter melakukan diagnosis terlebih dahulu. Melalui diagnosis dokter mendapatkan data otentik mengenai penyakit yang didertia pasien dan berdasarkan data itulah dokter melakukan tindakan penyembuhan dan memberi resep obat.
Dalam PTK dikenal dengan Penelitian Pra-PTK, atau yang sering disebut dengan reconnaissance. Penelitian Pra-PTK merupakan langkah awal yang berfungsi diantaranya untuk menguji kelayakan masalah. Dalam langkah ini peneliti melakukan pengukuran, pengamatan atau pengkajian terhadap masalah yang akan diteliti. Salah satu hal yang dihasilkan dari langkah ini adalah data otentik mengenai masalah. Misalnya kalau pendidik ingin mengangkat masalah rendahnya motivasi maka harus memiliki dari langkah Pra-PTK akan diperoleh data mengenai angka yang menunjukkan tingkat motivasi para peserta didik berdasarkan hasil pengukuran menggunakan skala motivasi belajar.
Keempat harus terdeteksi penyebabnya. Selain memiliki fakta yang pasti masalah yang akan diangkat harus diketahui penyebabnya. Apabila tidak maka peneliti akan kesulitan dalam menentukan tindakan. Penyebab masalah dapat diketahui dengan cara membaca referensi, merefleksi, mengamati, dan/atau berdiskusi dengan teman sejawat atau tenaga ahli mengenai praktek pembelajaran yang selama ini dilakukan. Setelah mendapatkan banyak data maka dapat mengajukan asumsi berdasarkan data yang diperoleh.
Keempat  masalah harus dapat diselesaikan melalui tindakan di kelas. Artinya masalah yang diangkat harus dapat diselesaikan melalui tindakan yang menjadi kapasitas pendidik. Banyak masalah kelas yang sangat penting untuk diselesaikan namun tidak dalam kapasitas pendidika untuk menyelesaikannya. Misalnya kelas terletak di pinggir jalan raya sehingga bising dan sangat mengganggu proses pembalajaran. Ini masalah ril kelas dan sangat penting untuk segera diselesaikan karena mengganggu konsentrasi belajar, namun masalah ini tidak dapat diangkat menjadi masalah untuk PTK karena solusinya tidak dalam kapasitas pendidik melainkan masalah yang harus diselesaikan oleh tingkat satuan pendidikan, misalnya membangun benteng yang tinggi sehingga dapat memantulkan suara bising kendaraan.
Kelima, masalah harus memiliki urgensi (tingkat kepentingan yang tinggi). Maksudnya, masalah yang diangkat untuk PTK berdasarkan skala prioritas harus terletak di urutan pertama untuk segera diselesaikan. Apabila dalam kelas ditemukan beberapa masalah pembelajaran maka yang harus harus diangkat menjadi masalah PTK adalah adalah yang lebih mendesak. Pada kasus Bu Siti apabila ada masalah lain yang lebih utama misalnya ternyata banyak siswa yang kecepatan membaca masih rendah maka harus diutamakan adalah penyelesain masalah kecepatan membaca terlebih dahulu dari pada kemampuan menangkap informasi rinci dari teks. Apalagi apabila yang ditemukan malah rendahnya kemampuan membaca, maka yang harus didahulukan adalah melakukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan membaca.
Kelima kriteria tersebut tentu saja bersifat relative tergantung kerpada siapa yang menganalisis. Namun demikian seyogyanya diperhatikan dan menjadi salah satu pendekatan untuk menguji kelayakan masalah yang akan diangkat menjadi masalah PTK. Apabila kajian ini tidak dilakukan maka kemungkinan besar akan menemui kendala baik kendala konseptual maupun kendala teknis dalam pelaksanaannya. Kendala-kendala tersebut akan berpengaruh terhadap validitas ilmiah sebuah PTK.

Tema dan Fokus masalah PTK

Seperti dipaparkan sebelumnya bahwa masalah yang akan diangkat untuk PTK harus memiliki setidaknya 5 kriteria. Untuk meyakinkan bahwa masalah yang akan diangkat memenuhi kelima kriteria tersebut maka harus dilakukan kajian masalah. Tentu banyak teknik yang dapat dilakukan untuk mengkaji masalah. Dalam buku ini digunakan teknik kaji masalah melalui  kaji dua langkah. Langkah pertama dalah menentukan fokus masalah dan langkah kedua merumuskan masalah.